SOROTAN : Kembali ke Nazareth, Kembali ke Keluarga Masing-masing


ADVEN KAJ 2012:  KEMBALI KE NAZARETH


Wawancara Eksklusif dengan Romo Alexander Erwin Santoso, MSF:

“Kembali ke Nazareth, Kembali ke Keluarga Masing-masing”


Pengantar Redaksi: Dalam masa adven 2012 ini, Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) mengangkat tema "Kembali ke Nazareth”. Komisi Kerasulan Keluarga KAJ, yang mengolah kegiatan dan materi  untuk digeluti umat dalam mengisi masa adven 2012 ini, menawarkan sesuatu yang baru. Untuk  memahami hal baru tersebut, latar belakangnya, dan tujuan yang mau dicapai, Warta RC secara khusus mewawancarai Ketua Komisi Kerasulan Keluarga, Romo Alexander Erwin MSF. Silahkan simak!


Selamat jumpa Romo, kami ingin bertanya mengenai masa adven di KAJ, katanya akan berbeda, benarkah?


Ya benar. Acaranya berbeda karena kami berusaha menyesuaikannya dengan masa adven sebagai acara keluarga mempersiapkan Natal. Masa adven sebentar lagi datang. Masa Natal sudah diujung mata. Kita semua bergembira menyambutnya bersama seluruh keluarga. Keluarga pasti tengah mempersiapkan acara keluarga tahunan ini. Menyambut Tuhan yang paling layak adalah membuat seluruh keluarga bergembira dan mengalami damai sejahtera bersama.


Bagaimana bisa dibuat demikian, Romo. Bukankah biasanya pertemuan itu diselenggarakan di lingkungan?


Benar, itu akan tetap diselenggarakan di lingkungan kita. Tetapi justru kita mau menyesuaikan dengan masa adven yang adalah masa menjelang Natal itu. Kita pasti punya rencana-rencana yang baik untuk menghabiskan liburan bersama keluarga. Itu tentu baik sekali. Kita menyempatkan diri untuk bersama keluarga dan mengenal mereka lebih dalam lagi. Yang biasanya formal dan rutin, sekarang kita buat lebih kekeluargaan dan fun (menggembirakan). Jadi pertemuannya kita buat lebih yang mempersatukan keluarga sesuai temanya: Kembali ke Nazareth.


Apa arti dari tema itu?


Kita tentu masih ingat peristiwa ketika Yesus tertinggal di Bait Allah. Di sana ia mengajar banyak orang pandai. Ia dicari ibu-Nya ke sana kemari. Ketika ditemukan, Yesus mengatakan bahwa Ia harus ada di rumah Bapa-Nya. Akan tetapi peristiwa yang baik adalah bahwa meskipun Yesus ingin berkarya, Ia tetap kembali ke Nazareth, kembali kepada Keluarga Kudus untuk dididik, hidup bersama dan mengolah hidup-Nya sampai siap berkarya kelak. Yesus saja kembali ke keluarga untuk membangun kepribadian yang matang, maka seluruh keluarga juga diundang kembali ke Nazareth-nya masing-masing, kembali ke keluarganya masing-masing.


Jadi, maksudnya, itu akan terjadi dalam masa adven di Jakarta, Romo?


Ya. Begitu juga dengan adven kita! Kita akan membuatnya menjadi sebuah pertemuan keluarga. Ini yang baru dicoba di paroki-paroki kita di seluruh Keuskupan Agung Jakarta (KAJ). Seluruh keluarga diundang untuk datang dan mengikuti seluruh rangkaian proses pertemuan yang bukan lagi terutama pendalaman iman, tetapi lebih ke aktualisasi iman bersama seluruh keluarga. Kita ingin mewujudkan proses pendalaman iman yang selama ini kita laksanakan menjadi suatu perwujudan. Kita diajak untuk membuktikan bahwa kita pun mau kembali ke rumah, ke keluarga, ke Nazareth kita untuk menata hidup bersama orang yang kita kasihi.


Apa saja isi acaranya?


Ada tiga acara pokok, yaitu Bulan Konseling, Pertemuan/Rekoleksi Keluarga, dan Hari Keluarga. Bulan konseling mengajak umat untuk memanfaatkan jasa pelayanan konseling atau konsultasi bersama sukarelawan yang bekerja bersama di seluruh paroki atau dekenat kita. Pertemuan/rekoleksi akan dijalani dengan aktivitas seluruh keluarga di tiap lingkungan tiap minggu. Hari keluarga diusulkan untuk mendorong setiap paroki mengadakan acara bertema keluarga di parokinya masing masing di tingkat paroki.


Apakah benar fokus acara ada pada Pertemuan/Rekoleksi keluarga?


Ya, benar, karena pertemuan bersama ini akan berbeda. Seluruh anggota keluarga diajak untuk beraktivitas menunjukkan kebersamaan yang lebih bermutu. Mereka akan diajak dari minggu ke minggu untuk semakin mengenal keluarganya, semakin menghargai keluarganya yang bermakna, semakin mengembangkan komunikasi, dan akhirnya berani melakukan rekonsiliasi/ menjalin hubungan baik kembali dengan sesama anggota keluarganya. Kemasannya adalah semacam perjumpaan yang aktif: Ice Breaking, aktivitas  rekoleksi (menulis, berdiskusi, sharing), berdoa bersama, dan melihat dasar Kitab Suci yang meneguhkan seluruh rangkaian aktivitas itu.


Jadi Kitab Suci masih ada, Romo?


Tentu saja, Kitab Suci mendasari apa yang kita lakukan. Kitab Suci meneguhkan bahwa aktivitas kita memang sesuatu yang sesuai dengan maksud Tuhan dalam hidup kita. Meskipun Kitab Suci tidak diperdalam, tetapi dari ayat yang ada itu kita mengerti bahwa acara dan kegiatan kita itu amat perlu dalam rangka menciptakan dan meneruskan hidup keluarga Katolik yang sejati.


Apa maksudnya hidup Katolik yang sejati itu?


Ya itu tadi, yang tidak jauh dari rumah tangga atau keluarganya sendiri. Setiap anggota keluarga diajak mengenal keluarganya, agar lebih dekat lagi. Tak kenal maka tak sayang, kan? Kemudian setiap anggota keluarga diajak untuk menghargai keluarganya yang penuh makna. Kadang kita hanya tahu bahwa kita punya papa-mama atau anak-anak seperti itu, tetapi apakah kita sungguh menghargai mereka sebagai yang bermakna bagi kita? Atau kita mencarinya di tempat lain? Dalam pertemuan kedua, seluruh umat yang hadir diajak untuk melihat makna keluarga.


Lalu apa yang digali dalam pertemuan selanjutnya?


Selanjutnya, akan dibahas komunikasi yang amat penting bagi setiap keluarga. Keluarga Katolik harus tahu bahwa berbicara itu penting dan ada seninya. Dalam pertemuan akan diajarkan perlunya berbicara, berkomunikasi, dan saling memahami. Dalam pertemuan keempat, karena semakin mendekati Natal, orang akan diajak untuk akhirnya berekonsiliasi dengan seluruh anggota keluarganya agar semua merayakan Natal dengan damai.


Rekonsiliasi seperti apa yang dimaksudkan?


Ya, rekonsiliasi kan artinya memperbaiki hubungan, saling memaafkan, minta maaf, mengampuni, dan sejenisnya. Maka ketika acara rekonsiliasi itu dilakukan, orang diajak untuk saling mohon maaf dan memaafkan. Itu adalah pertemuan yang sangat berarti, apalagi kalau dapat dilakukan oleh seluruh keluarga. Sangatlah baik kalau semakin banyak keluarga yang tergerak untuk datang bersama.


Jadi, kalau mereka tidak datang bersama bagaimana, Romo?


Memang acara ini idealnya diikuti oleh seluruh keluarga. Akan tetapi, kami sadar bahwa tidak setiap keluarga bisa, apalagi kalau mereka sudah dipisahkan karena anak-anak sudah membangun keluarga sendiri di tempat yang jauh; pasangan sudah meninggal dunia, berpisah, atau anak-anak yang tetap tidak mau datang. Mereka masih dapat melakukan aktivitas bersama. Umat yang datang sendiri, misalnya, dapat ikut dikelompok yang sama-sama datang sendirian. Lalu mereka akan melakukan simulasi, seolah-olah dengan keluarganya sendiri, sharing dan pengisian jawaban tetap untuk keluarga mereka tetapi teman kelompok bisa menjadi kawan sharing hasil jawaban itu.


Apakah Romo menganggap pertemuan ini akan berhasil baik?


Kita berharap segala sesuatu yang baik, kan? Hasil positif dan perbaikan tentu dikehendaki, tetapi saya sadar bahwa ini sebuah proses yang barangkali tidak sebentar untuk menciptakan jemaat baru, yaitu yang sadar mengikuti pertemuan-pertemuan bersama seluruh keluarga. Selama ini cara pendalaman iman kurang efektif untuk membawa seluruh keluarga, bahkan para suami pun sangat sedikit mengikutinya di banyak paroki. Maka terobosan baru ini diharapkan dapat menjadi pijakan mengubah paradigma, bahwa pendalaman iman itu cuma untuk kalangan tertentu saja, orang tua, atau bukan untuk orang muda dan membosankan. Acara ini bisa sangat rekreatif dan memberi hasil langsung.


Apakah dengan cara baru ini diperlukan pemandu yang khusus?


Ya, tentu saja pemandu harus memahami dan membaca seluruh buku pemandu lebih dahulu. Mereka bahkan dituntut untuk mengembangkan diri, tidak hanya membaca semua yang dituliskan, tetapi 1/2 hafal memahami isinya. Kemudian selama proses pertemuan, pemandu membawakannya dengan seni, kepekaan dan sekaligus memberi suasana informal dan kekeluargaan yang baik.


Bukankah pertemuan seperti itu menjadi sulit bagi lingkungan-lingkungan, Romo?


Tidak sulit, kita hanya perlu semangat baru. Jangan menganggap ini suatu hal yang mustahil. Kita menginginkan Jakarta baru, barangkali ini juga semacam "Jakarta Baru" itu, baru dalam hidup berimannya dalam keluarga..ha ha ha


Apakah Romo ada pesan-pesan khusus untuk umat?


Ya, pesan saya cuma satu, kembalilah ke Nazareth-mu masing-masing. Kita bisa keluar ke manapun dan menjadi besar, terkenal, hebat, kaya, dll, tetapi kalau kita tidak mampu memberikan yang terbaik untuk keluarga, maka kita juga tidak menghasilkan apa-apa yang berarti. Hidup akan semakin melegakan, ketika kita memiliki keluarga yang baik, yang mendukung, yang kita cintai dan mencintai kita. Selamat menjalani masa adven, selamat mempersiapkan bulan keluarga, selamat Kembali Ke Nazareth..!

Severinus Jojo


 
 

Warta RC Digital

Banner

Visitor Statistics

Today76
YESTERDAY254
WEEK782
Month3855
All293585

RC Facebook