Renungan

 


 

Masihkah Allah Mencintai Dunia?

(Yoh 3: 14-21)


Fr_Budi_80x92Frater Diakon Yohanes Budiyanto, SS.CC


Dunia kita sedang mengalami begitu banyak bencana alam. Siapa penyebab bencana ini? Siapa yang harus bertanggungjawab terhadap keadaan ini? Awalnya bencana itu berskala lokal, namun lambat laun bencana itu berskala global melewati batas-batas negara. Bencana telah menelan ratusan juta jiwa manusia dan menghancurkan alam semesta ini. Dalam situasi bencana ini, manusia lantas bertanya dan mempertanyakan eksistensi Allah: “Masihkah Allah mencintai dunia?”


Injil Yohanes hari ini mengisahkaan Allah yang mencintai dunia. Dunia menurut  Yohanes mencakup seluruh ciptaan dan terutama manusia, yang menjadi obyek kasih Allah yang menyelamatkan. Sabda Yesus kepada Nikodemus: “Sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian pula Putra Manusia harus ditinggikan, supaya orang yang percaya kepadanya memperoleh hidup kekal”. Dari Sabda Yesus tersebut, kita diajak untuk mengingat kembali perjalanan umat Israel menuju Tanah Terjanji. Sebuah perjalanan yang ditandai dengan aneka kesulitan dan bahaya. Salah satunya ialah ular-ular tedung yang mematikan (Bil 21:4-9). Kesulitan dan bahaya tersebut sebagai akibat kekurangpercayaan mereka kepada Allah. Mereka memohon pengampunan Allah lewat perantaraan Musa. Permohonan ampun diterima Allah. Allah lalu memerintahkan Musa untuk membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang, agar yang terpagut ular tetap hidup jika memandang ular tembaga tadi. Mereka kemudian melanjutkan perjalanannya sampai ke Tanah Terjanji. Tanah Terjanji yang diberikan kepada umat Israel, kini juga diberikan kepada kita, yang dibawa dan diwartakan oleh Yesus. Tanah Terjanji itu berupa Kerajaan Allah, yang tampak jelas dan nyata dalam seluruh hidup Yesus (sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya). Maka untuk memperolehnya, kita meletakkan seluruh kepercayaan dan harapan kepada Dia yang Tersalib.


Allah yang mencintai dunia tampak jelas dari refleksi penginjil: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Putra-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yoh 3: 16). Refleksi penginjil dilihat oleh para ahli Kitab Suci sebagai ringkasan Kabar Gembira. Dalam Kabar Gembira diwartakan bahwa Putra Allah datang ke dunia. Ia datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkan dunia, karena dunia adalah karya Allah. Walaupun Putra Alah datang bukan untuk menghakimi tetapi menyelamatkan, tindakan manusia berpengaruh dalam menentukan keselamatan atau penghakiman. Bagi penginjil  keselamatan akan dialami manusia, jika manusia percaya kepada Yesus dan melakukan yang benar. Sebaliknya penghakiman juga akan dialami manusia, jika manusia tidak percaya kepada Yesus dan melakukan tindakan yang jahat.


Saudara-saudari terkasih, berdasarkan refleksi di atas, kita dapat menjawab pertanyaan: “Masihkah Allah mencintai dunia?” Kita berani dengan lantang mengatakan bahwa Allah masih mencintai dunia. Ia telah lebih dahulu mencintai dunia, maka kita pun harus mencintai dunia. Dunia harus kita cintai, karena dunia adalah karya Allah. Karena itu mencintai dunia, berarti mencintai karya Allah. Selain itu, kita juga harus membangun dunia ke arah lebih baik lagi, agar dunia tetap eksis dan menjadi tempat yang aman bagi generasi-generasi kita di masa yang akan datang. Tuhan memberkati.

 
 

Warta RC Digital

Banner

Visitor Statistics

Today27
YESTERDAY169
WEEK444
Month6529
All289571

RC Facebook