Ibadat Jalan Salib


Ibadat Jalan Salib


Selama masa prapaskah, setiap Jumat malam pukul 19.00, di Gereja Regina Caeli diadakan Ibadat Jalan Salib.


Melalui ibadat itu, umat diajak untuk merenungi jalan yang dilalui Yesus demi menyelamatkan umat yang dikasihi-Nya: sebuah jalan penderitaan untuk sampai pada kemuliaan. Dengan permenungan peristiwa-peristiwa jalan salib ini, diharapkan umat pun meneladani Yesus untuk berani berkorban, melakukan tindakan kasih sebagaimana tema yang diemban dalam masa prapaskah ini, yaitu “Dipersatukan dalam Ekaristi, Diutus untuk Berbagi”.


Pada Ibadat Jalan Salib hari Jumat, 9 Maret silam, umat yang hadir sekitar 200 orang. Semula Ibadat jalan salib hari itu akan diselenggarakan di luar ruang mengitari stasi-stasi jalan salib di seputar pekarangan gereja. Namun, karena hujan mengguyur lebat, ibadat di luar ruang itu dipindahkan menjadi ibadat di dalam gereja.


Seperti Ibadat-ibadat Jalan Salib sebelumnya, ibadat malam itu dipimpin oleh prodiakon, yaitu Jelly Lim dan Adiputro. Yang bertugas sebagai pengantar adalah Feny Mandriani. Berpegang pada buku panduan Aksi Puasa Pembangunan 2012, Jalan Salib, terbitan Komisi Liturgi KAJ, acara ini berjalan dengan khidmat dan lancar, kendati di luar kilat


menggelegar bersahutan. Mulai dari stasi pertama sampai dengan stasi terakhir, umat diajak untuk merenungkan bagaimana penderitaan Tuhan Yesus sampai dengan wafat-Nya.


Nicholas Andy Hong dari lingkungan Dominikus, yang baru setahun ini menjadi Katolik, seusai ibadat mengatakan bahwa ibadat ini membawa dirinya merenungkan sengsara Yesus dan sekaligus merefleksikan dirinya sebagi murid Yesus. Menurutnya, pada peristiwa jalan salib itu banyak orang mencerca Yesus dan ada pula murid-murid Yesus yang menyangkal atau meninggalkan Dia. “Saya merefleksikan bahwa dalam hidup saya di zaman sekarang ini, saya juga tak ubahnya seperti murid-murid Yesus itu yang mungkin sering menyangkal Dia, meninggalkan Dia, atau bahkan seperti orang-orang Yahudi yang mencerca dan menghojat Dia,” tandas Andy. Lebih lanjut Andy mengatakan, melalui permenungan ini ia sungguh merasakan betapa bernilainya manusia di hadapan Allah, betapa Ia mengasihi manusia yang selalu berbuat dosa itu sampai Ia rela mengorbankan Putera-Nya untuk menebus dosa manusia itu. “Sebagai manusia berdosa seharusnya saya membalasnya dengan lebih lagi mengasihi Tuhan sepenuh hati dan mengasihi sesama manusia seperti yang diajarkan Yesus,” imbuhnya lagi.


Hal senada diungkapkan pula oleh Sien Kresensia dari lingkungan Matius. Menurut Sien, Yesus mengalami penderitaan hebat ketika disalibkan, walau demikian tak surut rasa kasih-Nya kepada manusia. Juga Bunda Maria menderita atas sengsara Yesus, namun Bunda Maria adalah Bunda yang tegar dan berserah pada kehendak Tuhan. Apapun kehendak-Nya, Bunda Maria menjalankannya dengan ketabahan yang luar biasa. Veronica yang menghapus peluh Yesus adalah wanita pemberani yang terus mengikuti Yesus selama masa prosesi penyaliban. Apakah kita seberani Veronica dalam menyatakan iman kita di hadapan orang banyak yang sedang mencerca Yesus? “Pada umumnya orang menghindari yang sedang bermasalah, tetapi Veronica tidak demikian. Dia selalu setia dan mengasihi Yesus.  Kita harus belajar seperti Veronika dalam hal kesetiaan iman dan bagaimana mengasih Yesus,” tambah Sien lagi. (Tadeus Tjandra G)




 
 

Warta RC Digital

Banner

Visitor Statistics

Today39
YESTERDAY181
WEEK400
Month5208
All288250

RC Facebook