Renungan


Mempertanggungjawabkan Talenta Kita

(Matius 25:14-30)

 

ChristinWitanto

 

Christin Witanto

Saya sering bertanya kepada diri sendiri: “Apa ya talenta yang saya miliki? Kok rasanya tidak ada ya?” Sering juga terkilas dalam benak saya: “Andaikan saya punya kemampuan ini, punya kemampuan itu, pasti saya sudah bisa begini dan begitu...” Nah gawatnya, setiap kali saya mengandaikan hal-hal itu, timbul rasa iri hati dan  rendah diri. Saya pikir, setiap dari kita telah menerima anugerah talenta dari Tuhan, macam-macam jenisnya dan tidak selalu sama antara orang yang satu dengan yang lainnya.


Apa yang saya pikirkan itu mendapatkan peneguhannya dalam Injil hari ini. Tuhan mengingatkan saya bahwa setiap dari kita telah dipercayakan oleh-Nya dengan talenta yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan kita. Hal ini diumpamakan dengan seorang tuan yang akan berpergian dan mempercayakan hartanya kepada hamba-hambanya. Kepada seorang hamba, diberikannya lima talenta, kepada yang seorang lagi dua talenta, dan kepada yang seorang lain lagi satu talenta;  masing-masing menurut kesanggupannya. Yang menarik adalah, anugerah talenta yang diberikan bukanlah sekedar hadiah yang “terserah mau diapakan”, melainkan sebagai “modal” untuk menghasilkan “laba” bagi sang tuan selaku pemberi talenta.


Kedua hamba yang menerima masing-masing lima dan dua talenta adalah hamba-hamba yang baik dan setia. Mereka menggunakan “modal“ yang diberikan oleh tuannya dengan sebaik-baiknya dan memperoleh “laba“ untuk kepentingan tuannya (baca: buah-buah untuk Kerajaan-Nya). Sedangkan hamba yang memperoleh satu talenta adalah hamba yang malas. Ia tidak mau mengembangkan anugerah yang diterimanya dan menyimpan untuk dirinya sendiri. Dia takut menggunakan talentanya, karena dia tahu bahwa tuannya akan meminta talenta itu pada waktu tuannya kembali.


Talenta melambangkan segala anugerah yang diberikan Tuhan kepada kita (kemampuan, waktu, sumber daya dan kesempatan yang kita miliki). Seperti tuan dalam perumpamaan yang mengharapkan agar hamba-hambanya menjalankan talenta yang diberikannya, Tuhan pun menghendaki kita mempertanggungjawabkan segala anugerah yang dipercayakan oleh-Nya dengan terus berusaha memaksimalkan dan mengembangkannya. Jadi, dengan segala anugerah yang kita miliki, kita diundang untuk mempersembahkan sesuatu untuk Kerajaan Allah. Ini bukan berarti kita berhenti dari pekerjaan atau rutinitas hidup kita lalu melayani Tuhan, tetapi dalam setiap karya kehidupan kita (pekerjaan, kehidupan berkeluarga, kehidupan bermasyarakat, dll), kita harus melakukan yang terbaik dan mempersembahkan semua usaha kita kepada Tuhan atas dasar kasih kepada-Nya.


Ingat! Semua talenta itu pemberian dari Allah Bapa untuk dikembangkan supaya menghasilkan “laba” untuk Kerajaan-Nya. Artinya, kita diharapkan untuk setia dalam mengerjakan apapun yang Ia percayakan kepada kita dan menggunakan talenta kita untuk memuliakan nama-Nya serta untuk kebahagiaan kita dan sesama. Sama seperti perlakuan tuan kepada kedua hamba yang baik dan setia, jika kita tekun dan setia dalam talenta dan berkat yang kecil, Tuhan akan menambahkan talenta kita sehingga “berkelimpahan” dan Ia juga akan “memberikan tanggung jawab dalam perkara yang besar”.


Setelah saya renungkan, sekarang terbentang pilihan di hadapan saya: saya mau mengembangkan semua anugerah Tuhan itu dan menggunakannya demi kemuliaan Tuhan atau menjadi pasif dan menyimpan segala anugerah itu bagi diri saya sendiri. Pastinya, saya tidak mau dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap di mana terdapat ratap dan kertak gigi" hanya karena pasif dan malas dalam mempertanggungjawabkan anugerah yang diberikan kepada saya secara cuma-cuma..

 

 
 

Warta RC Digital

Banner

Visitor Statistics

Today116
YESTERDAY241
WEEK1063
Month4136
All293866

RC Facebook