Makna Sakramen dan Dasar Bibilisnya

Seksi Katekese:


Makna Sakramen dan Dasar Bibilisnya


Rabu, 19 Oktober lalu, Romo Bonie Payong SS.CC memberikan pengajaran tentang  Tradisi dan Ajaran Gereja Katolik kepada Umat Regina Caeli.


“Sakramen adalah tanda dan sarana untuk keselamatan umat manusia,” ujar Rm Bonie mengawali pengajarannya. Allah menciptakan manusia untuk kebahagiaan dan keselamatan umat manusia itu sendiri. Karena itu, Allah menciptakan manusia menurut citraNya (Kej. 1:26).  Walaupun  manusia jatuh dalam dosa, Allah tidak henti-hentinya mencintai manusia dan selalu mengupayakan kebahagiaan manusia ciptaan-Nya yang paling mulia itu. “Gereja Katolik mempunyai Ajaran dan Tradisi akan Sakramen-sakramen sebagai sarana kepada kebahagiaan dan keselamatan umat manusia,” tandas Rm. Bonie.

 

 

 

Lebih lanjut Rm. Bonie menuturkan, bagi kita umat Katolik, Sakramen mempunyai makna yang sangat mendalam dalam peziarahannya. Menurut St. Thomas Aquinas, Sakramen sebagai tanda yang mengingatkan kita akan apa yang sudah terjadi yakni Sengsara Kristus; menunjukkan apa yang dilaksanakan di dalam diri kita oleh Sengsara Kristus yakni rahmat; dan sebagai tanda yang mengantisipasi kemuliaan yang akan datang. Artinya, dengan menerima salah satu sakramen, kita akan mengalami kebahagiaan kekal pada akhir zaman. Sebuah contoh, ketika kita jatuh dalam dosa, kita menerima Sakramen Pengakuan Dosa. Dengan sakramen ini, kita mengalami pengampunan dosa, mengalami kerahiman Allah dan kelak kita akan bersatu dengan Allah dalam Kerajaan Surga.


Romo Bonie menegaskan pula, maksud dan tujuan Sakramen adalah menguduskan manusia, membangun Tubuh Mistik Kristus dan sebagai suatu ibadat kepada Allah. Misalnya, dengan Sakramen Perminyakan, si penerima disucikan dan tergabung kembali secara utuh (akibat dosa) dalam Tubuh Mistik Kristus, sekaligus sebagai sebuah rangkaian ibatdat dipersembahkan kepada Allah yang menganugerahkan kesembuhan baik secara spiritual maupun lahiriah.


Apakah sakramen-sakramen itu ditetapkan oleh Kristus? Ni, Rm. Bonie dengan lantang menjawab “YA”. “Sakramen itu dipercayakan  kepada Gereja untuk menghasilkan rahmat dan memberikan kehidupan Ilahi bagi anggotanya,” sambung Rm. Bonie.


Dasar biblis setiap sakramen


Dalam membahas dasar biblis setap Sakramen, Rm. Bonie mulai dengan penjelasan dasar biblis Sakramen Inisiasi, yaitu  Sakramen Baptis, Sakramen Krisma dan Sakaramen Ekaristi.


Sakramen Baptis berdasarkan Mat 28:19 dan Kis 2:14,37-38. Yesus memerintahkan kepada Gereja melalui para rasul. Sesudah Yesus wafat dan bangkit, sebelum naik ke Surga, Yesus memberikan kuasa kepada para rasul untuk menjadikan segala bangsa menjadi murid-Nya dengan menerimakan pembabtisan. Tugas perutusan ini diteruskan dari generasi ke generasi sampai sekarang.


Pada Injil Luk 22:19-20 dan 1 Kor 11:23-25 yang menggambarkan situasi pada Perjamuan Malam Terakhir, Yesus mengambil (roti), mengucap syukur, memecah-mecahkan roti dan membagikannya kepada para rasul seraya menambahkan: ”Buatlah ini sebagai peringatan akan Daku”. Rm Bonie menjelaskan, dasar ini diambil oleh Gereja Katolik menjadi Sakramen Ekaristi. Empat tindakan dan kata-kata Yesus ini mengalami proses pengembangan menjadi bagian dari Liturgi Ekaristi dalam Perayaan Ekaristi. ‘Mengambil’ dikembangkan dalam bagian PERSEMBAHAN. ‘Mengucap Syukur’ dikembangkan dalam Doa Syukur Agung yakni mulai Prefasi ditutup dengan Doksologi. ‘Memecah-mecah’ ada pada doa Anak Domba Allah dan "membagikan" menjadi komuni kudus. Dengan demikian empat tindakan dan kata-kata Yesus dalam perjamuan malam terakhir dikemas dan dikembangkan menjadi sebuah rangkaian indah yang kita kenal sebagai Liturgi Ekaristi sekarang ini.


Selanjutnya Sakramen Krisma berdasarkan Yoh 14:25-26 mengenai Yesus berjanji akan mengirimkan Roh Kudus. Ketika naik ke surga Yesus memenuhi janji itu. Kisah 2:1-13, Yesus mengutus Roh Kudus sebagai pemenuhan janji-Nya kepada para rasul.


Setelah menguraikan dasar biblis Sakramen inisiasi, Rm. Bonie melanjutkan penjelasan untuk Sakramen-sakramen lainnya. Dalam Markus 2:10 Yesus mengampuni. Kuasa pengampunan ada pada Yesus. Kenapa harus melalui imam? Kita tidak mengabaikan kuasa pengampunan yang dipercayakan kepada Gereja dan diberikan kepada seluruh imam. Para imam hanya sarana dan tidak boleh menghalangi pengampunan yang dikehendaki oleh Yesus. “Jadi Imam jangan menghalangi pengampunan karena kuasa pengampuan tetap ada pada diri Yesus,” tandas Rm. Bonie.


Kemudian dalam Yoh 20:23, Yesus memberi kuasa pengampunan kepada para rasul dan diteruskan oleh Gereja dalam tradisinya.  Maka kita kenal sebagai sakramen Pengampunan Dosa. Dalam  Kis. 2:38; 3:19, kuasa pengampunan itu dipercayakan kepada Gereja.


Lebih lanjut Rm Bonie menjelaskan, dalam Mat 10:1 Yesus memberi kuasa penyembuhan. Pada Mark 6:13 ditambahkan ‘OLESKAN MINYAK’.  Gereja perdana sudah melaksanakan dengan menambahkan ‘panggillah penatua’ (Yak. 5:14) dan diteruskan dalam tradisi Gereja sekarang ini pada Sakramen Orang Sakit.


Sementara itu, dalam Luk 6:12-16, Yesus memilih dari antara para murid (pengikut-pengikut-Nya) dua belas orang menjadi rasul. Lalu dari dua belas orang ini, Yesus membentuk kelompok lingkaran kecil, tiga orang yaitu: Petrus, Yohanes dan Yakobus. Kepada mereka, Yesus memberikan kuasa menggembalakan (Yoh. 21:15-117), kuasa mengajar (Mat. 28:20), dan kuasa rayakan Ekaristi (Luk. 22:19). Gereja meneruskan dan menjadikannya sebagi tradisinya dalam Sakramen Imamat. Selanjutnya Sakramen Perkawinan didasarkan pada Injil Markus 10: 7-9: yang dipersatukan Allah janganlah diceraikan oleh manusia.


Demikian pengajaran Rm Bonie yang sungguh membuka wawasan peserta yang hadir pada malam itu. Pemahaman tentang iman Katolik ini sungguh diperlukan demi semakin bertumbuhnya iman akan Yesus Kristus di dalam Gereja Katolik. (BG)

 
 

Warta RC Digital

Banner

Visitor Statistics

Today396
YESTERDAY401
WEEK1732
Month12770
All259229

RC Facebook