Pendalaman Kitab Suci - Injil Markus


Seksi Kerasulan Kitab Suci:

 
Pendalaman Kitab Suci
“Firman-Mu Kerinduanku”
  
pendalaman_kitab_suci-kks.jpgSesuai dengan program Seksi Kerasulan Kitab Suci, setiap Selasa kedua tiap bulan, diadakan Pendalaman Kitab Suci (PKS) ‘Firman-Mu Kerinduanku”, yang untuk bulan ini diadakan pada Selasa, 12 Mei yang lalu. Seperti biasa, PKS yang menggeluti perikop-perikop dalam Injil Markus ini dipandu oleh Muliady Wijaya dan diselenggarakan di Ruang Serbaguna RC.

Kendati hanya diikuti oleh 12 peserta, PKS yang kali ini menggeluti perikop tentang ‘Orang Lumpuh Disembuhkan’ (Mrk 2: 1-12) berlangsung efektif dan nampak peserta begitu aktif menyampaikan pesan-pesan Injil yang ditangkap oleh mereka.
 
Konteks Perikop
      
Sebelum masuk ke pendalaman perikop dimaksud, Muliady terlebih dahulu memaparkan konteks dan susunan perikop tersebut. Menyinggung soal konteks, diingatkan bahwa pada bab 1 Yesus mulai berkarya di Galilea untuk memberitakan Kerajaan Allah. Ia kemudian mulai merekrut murid-murid dan melakukan beberapa mukjizat penyembuhan, yang membuat orang-orang berbondong-bondong datang kepada-Nya karena melihat kuasa yang luar biasa pada diri Yesus dalam pengajaran dan karya-Nya. Namun, yang dicari orang banyak adalah Yesus Sang Penyembuh, sementara maksud Yesus adalah mewartakan Kerajaan Allah melalui ‘tanda-tanda’ yang dilakukan-Nya. Maka, Yesus pun menyingkir ke kota lain.

      

Markus bab 2 menceritakan tentang Yesus yang kembali ke Kapernaun dan mulai mengajar lagi. Kisah ini menjadi pertentangan awal Yesus dengan kelompok-kelompok dalam masyarakat. Markus menampilkan lima pertentangan secara berturut-turut mulai dari Mrk 2: 1 – 3: 6. Pertama, pertentangan dengan ahli Taurat yang mempermasalahkan kuasa Yesus dalam mengampuni dosa orang lumpuh (Mrk 2: 1-12). Kedua, pertentangan dengan ahli Taurat dan kaum Farisi yang mempermasalahkan Yesus bergaul dengan kaum berdosa (Mrk 2: 13-17). Ketiga, pertentangan dengan murid-murid Yohanes dan orang Farisi yang mempermasalahkan tentang murid-murid Yesus yang tidak berpuasa (Mrk 2: 18-22). Keempat, pertentangan dengan orang-orang Farisi yang mempermasalahkan murid-murid Yesus yang memetik gandum pada hari Sabta. Lalu kelima, pertentangan dengan orang-orang Farisi dan para pengikut Herodes yang mempermasalahkan penyembuhan yang dilakukan Yesus pada hari Sabat. Kecimpulan dari kelima pertentangan ini tertuang pada Mrk 3: 6: “Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk membunuh Dia.”

      
Setelah melihat konteks perikop, peserta kemudian diajak melihat susunan perikop ‘Orang Lumpuh Disembuhkan’ tersebut: Yesus sedang mengajar (ay 1-2), orang lumpuh dibawa oleh teman-temannya kepada Yesus (ay 3-5), pertentangan dengan ahli Taurat (ay 6-11), lalu tanggapan orang banyak setelah mukjizat (ay 12).
 
Menggali Pesan

      

Setelah uraian tentang konteks dan susunan, peserta dipersilakan membaca sekali lagi perikop tersebut dan mencoba menggali pesan yang ditangkap. Kemudian peserta diberi kesempatan untuk mensharingkan pesan yang didapatnya.

      
Dalam kesempatan berbagi pesan inilah interaksi antar peserta terjadi. Mereka dengan bebas mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Samuel merasakan bahwa  ungkapan mengenai ’orang lumpuh’ bisa dikonotasikan sebagai orang yang sudah tidak berdaya sama sekali, tidak bisa apa-apa. Syukurnya, orang lumpuh tersebut memiliki teman-teman yang memperhatikan dirinya. Lebih lagi, teman-temannya itu adalah orang-orang yang percaya, sehingga mereka membawanya kepada Yesus.  Melihat iman keempat teman orang lumpuh itulah, Yesus kemudian bertindak. Ternyata, iman kita bisa menyelamatkan orang lain. 

      

Dewina mengungkapkan bahwa ternyata kumpulan orang banyak itu tidak memiliki kepekaan terhadap seseorang menderita yang ada di sekitarnya yang sedang membutuhkan pertolongan. Mereka terpusat pada kepentingan diri sendiri. Hal yang sama juga terjadi pada diri ahli-ahli Taurat. Mereka pun merasa terganggu kepentingannya, sehingga tidak mampu melihat karya Allah yang sedang terjadi di hadapan mereka. Jadi, selama kita terus berkutat dengan kepentingan diri sendiri, kita sulit menjadi peka akan penderitaan orang lain, kita juga sulit melihat karya Allah yang sedang bekerja di hadapan kita.

      
Lain lagi dengan Joyce. Ia melihat bahwa sebelum menyembuhkan orang lumpuh itu Yesus terlebih dahulu memulihkan hidup rohani orang lumpuh tersebut. Ia pertama-tama bukan melakukan penyembuhan, tetapi terlebih dahulu menyembuhkan dosa orang lumpuh itu. Inilah arti kesembuhan yang sesungguhnya. Inilah yang pertama-tama mau diwartakan Yesus, yaitu pemulihan hubungan dengan Allah. Dan ternyata, pemulihan rohani ini kemudian memuluskan penyembuhan jasmani. Sering terjadi, karena sakit rohani orang mengalami gangguan-gangguan jasmani.
 
      
Masih banyak lagi pesan-pesan yang disharingkan peserta. Perikop yang sudah biasa  kita dengar ini menjadi begitu kaya. Terakhir, pemandu merangkum semua sharing peserta dan menandaskan beberapa pesan utama untuk dibawa pulang dan menjadi pedoman dalam hidup sehari-hari.

      

Suatu pertemuan yang sungguh dapat membuat iman kita semakin berakar dengan mendasarkan diri  pada Firman Tuhan yang hidup. Yesus, sungguh, Friman-Mu kerinduanku! (Samuel Rismana)

 
 

Warta RC Digital

Banner

Visitor Statistics

Today444
YESTERDAY888
WEEK444
Month11482
All257941

RC Facebook