| Bacaan Sepekan |
|
Senin, 8 Februari
2010 1Raj 8: 1-7, 9-13 Mrk
6: 53-56
Kemana pun Yesus pergi, orang
mengejar-Nya untuk membawa orang-orang sakit kepada-Nya. Semua yang menjamah
jumbai jubah-Nya menjadi sembuh. Sayangnya, ini belum cukup menjadi tanda bagi
mereka bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah. Apakah kita juga masih
membutuhkan tanda untuk dapat berserah total kepada-Nya?
Selasa, 9 Februari
2010 1Raj 8: 22-23, 27-30 Mrk
7: 1-13
Kita mudah jatuh dalam sikap yang
munafik: tiadanya kesesuaian antara iman dan perbuatan; antara kata dan
tindakan; antara cita-cita dan usaha mencapainya. Yesus mencerca sikap seperti
itu. Ia menuntut supaya apa yang kita ucapkan sungguh pula berakar pada hati
yang dalam dan berwujud dalam perbuatan yang nyata.
Rabu, 10 Februari
2010 1Raj 10: 1-10 Mrk
7: 14-23
Yesus kembali menekankan pentingnya
hati yang bersih. Dari hati seperti inilah akan keluar perbuatan-perbuatan
baik. Hati yang bersih adalah hati yang tidak mengikuti dorongan-dorongan
jahat, tetapi membiarkan Roh Kudus bekerja dan menuntun.
Keselamatan itu ternyata milik segala
bangsa. Dalam Yesus tidak ada lagi Yahudi, Yunani, orang bebas atau pun budak
belian. Maka, murid-murid Yesus pun harus membuka diri untuk semua, tanpa
membedakan asal-usul ataupun kaya-miskin.
Selama kita ’tuli’ dan tidak mau membuka hati untuk sungguh
mendengarkan, selama itu pula hidup kita sulit ’bicara’. Datanglah pada Yesus,
izinkan Dia menjamah kita supaya hati kita terbuka dan mampu ’mendengarkan’.
Dengan begitu, hidup kita pun akan bisa banyak ’bicara’ di hadapan orang lain.
Di sekitar kita
ada begitu banyak orang yang membutuhkan pertolongan. Karena banyaknya, kita
pun merasa tidak sanggup berbuat apa-apa. Yesus mengingatkan, kita dapat
melakukan sesuatu dengan apa yang kita miliki – dan itu tidak perlu harus materi.
Selebihnya, Ia yang akan bekerja.
Minggu, 14 Februari 2010
Yer 17: 5-8 1Kor 15: 12, 16-20 Luk 6: 17, 20-26
Berbahagialah orang-orang yang miskin,
lapar, menangis, dan dibenci karena Anak Manusia. Betapapun saat ini hal-hal
itu tidak diinginkan, orang-orang seperti itu ke masa datang lebih mudah
menggantungkan hidup pada Tuhan. Sebaliknya, celakalah yang kaya, kenyang,
tertawa, dan dipuji. Betapa pun hal itu saat ini menyenangkan, pada masa depan
bisa mencelakakan karena mendorong orang untuk mengandalkan kekuatan diri
sendiri. |
| < Prev |
|---|